Saturday, October 23, 2010

::...Sebak...::


Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah s.a.w dengan suara terbatas memberikan khutbah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepada-Nya. Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur'an dan Sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah s.a.w yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Saidina Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Saidina Umar adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Saidina Usman menghela nafas panjang dan Saidina Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah s.a.w akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah s.a.w yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun darimimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah s.a.w masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah s.a.w sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah s.a.w menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah s.a.w, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah s.a.w menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggil Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasulullah s.a.w dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah s.a.w lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik itu semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah s.a.w ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah s.a.w bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah s.a.w mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah s.a.w pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah s.a.w memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah s.a.w mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. Kalam Rasulullah s.a.w yang bermaksud ,"...peliharalah solat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah s.a.w yang mulai kebiruan."Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai baginda sepertimana baginda mencintai kita? Betapa cintanya Rasulullah kepada kita..

....................Sollu 'alannabiyy.....................

Saturday, October 16, 2010

::...Hanya Sebiji Epal...::


Siang itu udara panas sekali. Seorang anak muda berjalan sendiri, di tengah hutan gersang dengan pepohonan yang jarang. Tampak tersiok-siok berjalan. Didera rasa haus dan lapar ia mencuba untuk tetap meneruskan perjalanan. Ternyata di hutan itu ia menemukan sebuah sungai kecil berair cukup jernih.

Alhamdulillah air ini cukup membantu menghilangkan dahagaku.Dia berkata dalam hati seraya membasuh mukanya.

Namun setelah air mengalir membasahi kerongkongannya, perutnya pun berteriak minta diisi. Sudah dua hari lebih ia belum makan. Sepanjang melintasi perjalanan tadi, ia belum menemukan makanan apapun. Jangankan haiwan liar, pohon yang berbuah pun tak dijumpainya.

Sambil duduk memandangi sungai, ia merenungi perjalanannya, atau lebih tepat pengembaraannya. Telah beberapa waktu dilalui hidupnya untuk mengembara melintasi bumi Allah, sekadar mencari pengalaman hidup dan berguru pada mereka yang ditemuinya. Tanpa sedar kerana lapar dan ngantuk yang mulai menyerang, dilihatnya satu dua benda yang mengapung di sungai kecil itu. Dipandanginya lebih tepat. Ya, itu adalah buah, seperti buah epal kerana merah warnanya. Bangkit dari duduknya, kemudian mencari sebatang dahan kayu untuk menarik buah itu ke tepi.

“Alhamdulillah, kalau rezeki tak akan kemana. Bismillahirrahmaanirrahiim….hmm, lazat sekali epal ini. Serasa masih baru dipetik dari pohonnya.” Gumamnya, setelah 3-4 gigitan yang telah ditelan, tiba-tiba anak muda itu berhenti mengunyah epal tersebut.

“Astaghfirullah, buah ini belum diketahui siapa yang empunya, sudah aku makan tanpa keizinannya.” Sejenak kemudian mengalir air matanya.Terisak dia.

“Buah ini belum halal bagiku. Duhai perutku maafkan diriku yang telah memberikan sesuatu yang belum jelas kehalalannya padamu.” Terdiam, buah epal yang sudah separuh dimakan itu kemudian ia pandangi, berfikir cuba mengolah isi hatinya. Satu sikap yang jarang diketemui dewasa ini

Zaman ini kejujuran begitu sukar ditemui. Kejujuran sudah menjadi barang antik, jangankan untuk mengembalikan atau menghalalkan sepotong epal, wang berjuta mengelabui mata, sambil tidak ada niat untuk mengembalikannya. Atau untuk hal-hal “kecil” seperti menggunakan barang-barang pejabat untuk keperluan peribadi, sudahkah kita menghalalkannya?

“Aku harus menemukan sumber dari buah epal ini. Bertemu dengan pemiliknya dan meminta kepadanya untuk mengikhlaskan satu buah epal ini untuk menjadi rezekiku.”

Bergegas ia membereskan perbekalannya dan kemudian berjalan menyusuri sungai kecil itu untuk menemukan sumber buah epal yang dimakannya. Hingga sampailah ia di sebuah kebun kecil di pinggir sungai yang disusurinya itu. Tampak ada beberapa ladang dengan beberapa jenis tanaman lain di dekat situ, juga sebuah gudang kecil. Sejurus kemudian terhenti pandangannya pada sebuah rumah yang sederhana namun cukup ceria yang menunjukkan penghuninya adalah orang yang rajin menjaganya. Menujulah ia kesana dengan harap-harap cemas dapat bertemu pemiliknya.

Pemuda Tsabit sesekali membandingkan epal yang ada di tangannya dengan epal yang ada di sekitar kebun itu. Tsabit yakin epal yang ada di tangannya itu berasal dari kebun itu.

“Assalamu’alaikum..”“Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..”

Sesusuk lelaki separuh baya muncul dari balik pintu.“Siapakah engkau wahai anak muda?”“Nama saya Tsabit bin Ibrahim, apakah tuan pemilik rumah ini, juga kebun dan ladang di dekat rumah ini?”“Betul, sayalah pemiliknya.”“Apakah kebun epal itu juga milik tuan?”“Iya, kebun itu milik saya, sekarang sedang berbuah.“hmm, silakan masuk dan duduk dulu.”

“Begini tuan, saya adalah seorang pengembara, ketika sedang dalam perjalanan, saya menemukan sungai kecil. Di situ kemudian saya temukan beberapa buah epal yang terapung. Kerana lapar yang telah begitu mendera , saya ambil dan saya makan. Saya baru sedar bahawa buah ini pasti ada yang punya sebelumnya, hingga kemudian saya mengikuti sungai tadi dan menemukan kebun dan rumah Tuan” jelasnya sambil memperlihatkan buah epal yang tinggal separuh.

“Hmm….”, lelaki pemilik rumah itu bergumam pendek. “Maafkan saya, sudilah kiranya Tuan yang baik hati untuk mengikhlaskan buah epal ini untukku. Tanpa keikhlasan Tuan, niscaya buah epal ini akan menjadi barang haram yang saya makan, dan saya akan menyesalinya seumur hidup saya. Tak terperi rasanya dalam urat nadi saya mengalir darah yang yang disusupi ketidakhalalan. Bagaimana pertanggungjawaban saya terhadap keturunan saya, darah daging saya kelak??” Pemuda ini kembali menyapu air mata yang menggenang..

Pemilik kebun itu adalah seorang yang alim dan soleh. Ia tahu, dalam pandangan agama tidak ada alasan untuk tidak mengizinkan seseorang makan epal yang ditemukan di pinggir sungai.

Ia merenung, “Saya ingin mengetahui, apakah anak muda ini benar-benar seorang yang ‘alim, yang takut pada Allah kerana telah melakukan sesuatu yang ia tidak yakin apakah itu benar atau salah. Atau ia hanya seorang pembual bermuka dua, yang hanya ingin menarik perhatian?” Untuk tujuan menjawab pertanyaan itu, akhirnya pemilik kebun epal memutuskan untuk menguji anak muda tersebut.

Setelah beberapa saat pemilik kebun epal berkata dengan riak muka yang masam. “Anak muda, saya tidak boleh begitu mudah memaafkan kamu, saya punya persyaratan untuk itu.” Tiba-tiba ia mendapat idea untuk menguji anak muda ini.

“Baiklah, tapi saya mengajukan persyaratan. Untuk epal yang telah engkau makan, engkau harus membayarnya dengan bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa bayaran. Jadi engkau hanya akan mendapat makanan dan minuman sehari-hari sebagai upah bekerja itu. Dan untuk itu, engkau boleh menduduki gudang di sebelah itu sebagai tempat bernaungmu.”

Awalnya pemuda Tsabit bercadang untuk membayar epal itu, tetapi pemilik kebun epal tidak mengizinkannya. Tercegat pemuda itu mendengar ucapan si orang tua. Lama ia terdiam, kacau, kalut, menimbang-nimbang. Akhirnya, setelah menghela nafas sambil beristighfar berkali-kali, ia mengangguk. Tidak ada pilihan lain. Ia harus memperbaiki kesalahannya, agar dimaafkan. Tanpa berpikir panjang lagi segera ia menyetujui persyaratan yang sulit itu. Selama tiga tahun ia bekerja untuk pemilik kebun epal itu.

“Tuan, mungkin sudah ditakdirkan oleh Allah, ini sudah menjadi suratan nasib saya. Kiranya Allah mengetahui apa yang terbaik bagi saya demi halalnya makanan yang masuk ke dalam tubuh saya ini.”

Akhirnya bekerjalah sang anak muda itu di kebun dan ladang lelaki tua. Dengan giat dijalani hidupnya di ladang dan kebun tersebut. Seraya selalu memohon keberkahan dalam amalan hidup yang dijalaninya.

Setelah 3 tahun berlalu, anak muda itu kemudian menemui pemilik kebun.“Tuan, hari ini hari terakhir saya bekerja disini. Saya telah menyelesaikan janji saya memenuhi permintaan Tuan.”

Pemilik kebun epal sedar, bahawa anak muda ini, yang sedang berdiri di hadapannya, adalah orang yang luar biasa. Anak muda ini telah memikat hatinya dan kerananya ia tidak akan membiarkan anak muda ini pergi begitu saja.

Pemilik kebun epal sejenak kemudian menjawab, “Tunggu dulu anak muda, masa 3 tahun sudah engkau jalani, namun saya belum dapat memaafkan. Persayaratan terakhir adalah engkau harus menikahi putri kesayanganku. Yang perlu engkau ketahui bahawa ia tidak dapat menggerakkan tangannya, tidak mampu berjalan, tidak boleh mendengar dan tidak boleh melihat. Seandainya engkau menerimanya sebagai isteri, maka kuikhlaskan buah epal dari kebunku yang engkau makan waktu itu.”

Jujur saja, menikahi seorang wanita cacat, adalah perkara yang sukar. Persyaratan ini sangat berat bagi Tsabit. Tapi hidup dengan mengabaikan suara hati nurani dan ketika kelak meninggal dan akan bertemu dengan Allah, tentunya lebih berat lagi. Tsabit merenung, begitu aneh peranannya dalam kehidupan yang telah terjadi, hanya kerana menemukan epal yang sedang menerapung di tepi sungai, lalu menggigitnya tanpa berpikir panjang. Sambil memandang tanah dengan wajah pucat lesi Tsabit berkata :

“Duhai, ujian apa lagi ini ya Allah, setiap lelaki tentu mengharapkan isteri yang sempurna, secantik bidadari, bermata jeli dengan riasan mahkota permaisuri di kepalanya. Tak terbayang betapa berat semua ini.” Pilu doanya dalam hati.

Namun dia tidak ada pilihan kecuali, “Ya, saya menyetujui persyaratan Tuan, dengan begitu sebaiknya Tuan memaafkan saya.” akhirnya lelaki yang teguh memegang janjinya itu mengangguk. Di dalam setiap ujian, ada hikmah yang semoga dapat meningkatkan ketakwaannya.

Beberapa hari kemudian, Tsabit menikah dengan anak perempuan si pemilik kebun epal secara sederhana. Pada malam harinya, Tsabit pergi menuju kamar pengantin, di mana mempelai wanita telah menunggunya. Di sana ia melihat seorang muslimah impian yang cantik jelita, yang tersenyum padanya. Tsabit merasa takjub dan terpinga-pinga;

“Ya Allah, saya telah salah masuk kamar.” Tsabit bergegas meninggalkan kamar dan sebentar kemudian ayah wanita itu datang menghampirinya.

“Maaf, saya telah salah masuk kamar.” Tsabit mencuba menjelaskan dengan wajah tersipu malu.

“Itu bukan kamar yang salah. Ia adalah anak perempuan saya.” jawab si pemilik kebun epal yang sekarang telah menjadi mertuanya.

“Saya sudah menemuinya. Tapi ia bukanlah anak perempuan seperti yang Tuan ceritakan pada saya. Ia sama sekali tidak cacat seperti yang Tuan katakan.”

Mertuanya berkata sambil tersenyum, “Anakku! Anak perempuan saya lumpuh, karena ia sampai saat ini tidak pernah memasuki tempat hiburan manapun, ia buta, karena sampai sekarang tidak pernah memandang laki-laki yang tak dikenalnya, ia juga tuli, karena ia selama ini tak pernah mendengar fitnah dan hanya mematuhi Al Qur’an dan kata-kata Rasululllah Salallaahu Alaihi wa Sallam.”

Subhanallah sungguh kesolehan seorang muslimah sejati. Hal Ini juga sudah jarang ditemui. Dewasa ini kita begitu sukar menemukan seorang muslimah yang “buta, bisu, tuli, dan lumpuh” dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Mungkin ada, tetapi begitu sukar menemukannya. Mungkin, bagi seorang laki-laki yang menginginkan muslimah seperti ini, setidaknya harus memiliki kejujuran yang dimiliki oleh Tsabit.

Kerana alasan itulah sang pemilik kebun mempertimbangkan secara mendalam dan akhirnya mengambil keputusan menyerahkan anak perempuannya kepada Tsabit, kerana dia telah yakin bahawa Tsabit cocok mendampinginya. Kerana takut pada sari epal yang telah masuk ke dalam perutnya, setuju untuk bekerja selama 3 tahun hanya agar kesalahannya dimaafkan.

“Alhamdulillah, selama hidup saya tidak pernah makan sesuatu atau memberikan sesuatu yang dilarang Allah pada anak saya untuk dimakan. Anak perempuan saya baik dalam segala hal. Kalian adalah pasangan yang serasi. Semoga Allah Subhanahu wa Ta`ala memberkati kalian dan menganugerahkan kalian anak yang soleh. Saya memberikan kebun epal ini sebagai hadiah pernikahan kalian. Sekarang, pergilah menemui isterimu.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Tsabit segera melupakan semua kegundahan di hatinya selama ini dan pergilah ia menemui pasangan hidupnya yang berharga dan sangat dikasihinya. Dari pernikahan ini lahirlah Imam besar Abu Hanifah, yang mengajarkan dasar-dasar Mahzab Hanafi.

Tsabit telah memakan setengah buah epal, terus mencari pemiliknya meskipun harus menempuh perjalanan sehari semalam. Kemudian dia sanggup untuk menikahi anak pemilik kebun meskipun dikatakan bahawa puterinya tersebut buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Sungguh semua itu dilakukan Tsabit demi kehalalan sebuah epal. Namun kerana ‘kehalalan’ inilah dia beroleh berkah dari Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan solat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Al Fathir:29)

......................Subhaanallah...Ta'ajjub :)..............................

Friday, August 20, 2010

::...Inzar (Peringatan) Untukmu Wanita...::

....Pengakuan dari seorang Ikhwah....

Terkadang bila melayari weblog-weblog rakan, menjelajah ke dalam dunia maya bagi manusia yang memayakan diri mereka, saya merasa hairan melihat sesetengah weblog muslimah, yang bertudung, yang menutup aurat, tidak segan silu pula untuk memaparkan gambar masing-masing.

Tiadalah terlalu salah untuk memaparkan gambar anda, ya muslimah sekalian, namun, sayangnya, anda terlupa bahawa gambar yang anda posting itu adalah gambar sebesar skrin 17 inci! Setiap butir jerawat di muka anda terpampang rapi!

MUSLIMAH & GAMBAR : ADA APA DENGANNYA?

Tidaklah tujuan saya mengaibkan kalian. Saya adalah rakan kamu. Sahabat kamu. Yang enggan melihat wajah-wajah anda itu, dipaparkan sewenang-wenangnya kepada orang. Biarpun wajah bukan aurat mengikut sesetengah mazhab, namun tatkala fitnah mengundang, tidakkah ia melayakkan ianya ditutup dari pandangan umum? Muslimahku, Dunia internet semakin berkembang maju. Satu hari, satu weblog, mungkin berjuta-juta orang yang melihatnya setiap hari.

Di kalangan mereka ada yang bagus, yang menundukkan pandangan selaras firman Allah dalam Surah An-Nur “Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki Yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang Yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; Sesungguhnya Allah amat mendalam pengetahuannya tentang apa Yang mereka kerjakan. ”

Namun, kita harus akui, bahawa di kalangan jutaan orang itu, ada yang hatinya sakit, ada yang jiwanya perit menanggung kesakitan akibat terlihat wajah-wajah kamu biarpun kamu bertudung litup. Muslimahku, Kalau kita lihat dunia gambar bukan main maju lagi. Dahulu, cuma setakat kamera yang perlu dicuci gambarnya. Kini, telefon juga menjadi kamera. Kamera pula lebih dahsyat, lebih instant, sesegera mee segera yang sama kerosakan yang dibawanya, penyakit hati.

Alangkah malangnya, kalau wajah-wajah anda yang terpamer itu, mengundang gejolak rasa di jiwa insan bernama lelaki, yang beriman akan beristighfar dan memujuk hati, manakala yang sakit jiwanya, akan mula mengganggu anda. Mula memburu anda dengan SMS, telefon, hatta mungkin mendekati anda, dengan tujuan memiliki anda….

Hanya kerana satu kesilapan yang mungkin anda tidak terniat, wajah anda terpampang besar di internet! Gambar adalah bayangan realiti. Namun mungkin juga ia fantasi. Kadangkala tertipu juga lelaki pada fantasi Photoshop, Fireworks dan seribu satu pengedit gambar lagi. Kalau itu memang tujuan anda, anda tanggung sendirilah. Tapi kalau niat anda cuma berkongsi, dengan tanpa sedar mengajak fitnah bertandang, maka amaran saya, hati-hatilah!

PENYELESAIANNYA….

Andalah sahaja yang mampu menyelesaikannya. Bukan orang lain. Diri anda, andalah yang harus menjaganya. Apa tujuan anda bertudung dan menutup aurat? Bukankah kehendak syariat dan ingin menutup pandangan orang kepadamu? Maka, soalan saya, menundukkan pandangan bukan kehendak syariatkah? Memaparkan wajah anda besar-besar menutup pandangan orang terhadap andakah? Kerana weblog-weblog dan web foto itu milik anda, seharusnyalah anda kecilkan wajah-wajah anda dengan mengecilkan saiz gambar itu.

Banyak cara boleh dilakukan menggunakan perisian pengedit gambar. Belajarlah daripada yang tahu. Hindarkanlah aksi-aksi dan posing-posing yang hanya akan menambahkan lagi kerosakan jiwa masyarakat. Sekiranya niat anda hanya ingin berkongsi dengan rakan muslimah anda, lakukanlah secara tertutup. Elakkan posting yang boleh dilihat oleh segala macam jenis orang. Kalau lebih mudah, anda kirim saja emel bergambar pada rakan muslimah anda itu.

Ingat, wajah anda, anugerah Allah.

Anugerah Allah itu hanya layak dilihat berkali-kali oleh yang layak sahaja...
Wallahu A’lam..

................WANITA SOLEHAH SABAIK-BAIK HIASAN................

Friday, July 23, 2010

::...Hargai Sebuah Kehidupan...::


Hidup hanyalah peluang untuk membuat pilihan-pilihan. Pilihan yang benar ataupun sebaliknya. Setiap hari umur bertambah usia. Hal itu bererti kematian kian mendekati kita. Tiada jalan lain yang harus dipilih melainkan jalan hidup yang benar. Bertahun-tahun telah berlalu. Kumpulan hari, bulan dan tahun terus berjalan tanpa pernah kembali lagi. Semoga Allah sentiasa merahmati dan meredhoi perjalanan hidup yang telah kita pilih ini.

Setiap hari kita membuat keputusan..Dari pagi hingga malam..Semasa mendengar azan subuh,kita membuat pilihan pertama samada mahu bangun atau tidur kembali..Memilih baju,memilih kasut,memilih sarapan dan memilih jalan..Pilihan-pilihan itulah tempat Allah menilai kita..Pilihan yang baik mengundang KEBAIKAN..Pilihan yang jahat mengundang KEJAHATAN..Imanlah yang membimbing kita membuat pilihan dalam kehidupan..

::...Semoga akan hadir dalam setiap hati..."Jiwa
yang sensitif dengan dosa"..Merasakan dosa itu besar sekalipun pada
kesilapan sekecil zarah...::

Saturday, July 3, 2010

::...Ya Ilahi...KuMohon Pada-Mu...::


Ya Allah Ku Bersyukur Di Atas Kurniamu...
Yang Banyak Mengubah Hidupku Di Jalan Hidayahmu..
Kini Ku Selalu Bersyukur Segenap Pemberiaanmu....
Kerana Ku Tahu Semua Itu Pinjaman Darimu...

Banyaknya Nikmat Kau Berikan Kepada Hambamu..
Tidak Terhitung Jari Jemariku...
Menguji Keimananku...
Agar Redha Dengan Kehendakmu...

Kerana Disana Nanti Kau Kan Tanya...
Apakah Yg Ku Lakukankannya Di Dunia...
Kalaulah...Ku Menyalah Guna...
Apalah Daya Hendak Ku Kata...

( " Ya Tuhan... Selamatkanlah Aku Di Sana Nanti...
Tiliklah Aku Dengan Tilikan Rahmat Kasih Sayangmu Tuhan..." )

Kau Telah Berjanji Kepada Mereka Yang Bersyukur...
Kau Tambahi Nikmat Kurniamu Itu Tuhan...
Tapi Jikalau Kufur... Azabmu Kan Menimpa Jua ....

Ya Allah Bimbinglah Diri ini Kejalan Redhamu...
Juga Ampunanmu Oh Tuhan ...
Agar ku Sentiasa Bersyukur Dengan Apa Yg Ada..

Syukurku Padamu Ya Allah
Atas Pemberiaanmu..Kerana..Hidayahmu Tuhan
Terlalu Banyak Tidak Terhingga Walau Ku kira Satu Persatu...

Amin...Amin...Amin...Ya Robbal'alamin

Tuesday, May 18, 2010

::...Min Qalbie ila Qalbie...::


Aduhai hati yang selalu gundah gulana..Mengapa perlu difikirkan kehidupan duniawimu, sedangkan dunia itu sering menipumu. Bukankah kehidupan ini penuh dengan majazi? Tipu daya di sana sini? Maka, hendaklah engkau susun langkahmu penuh hati-hati, langkah syaitan itu sentiasa tidak mahu mengaku kalah dan tidak pernah putus asa. Setiap saat masanya adalah berharga. Tidak dibiar kosong tanpa menyesatkan adam dan hawa. Lantas, bagaimana engkau masih lagi memikirkan hal duniamu?

Perbanyakkanlah berfikir, renung penuh bererti. Bagaimana bakal kehidupanmu sewaktu mengadap Tuhan Rabbul ’Izzati ?? Selamatkah dirimu di hari yang tiada pelindung melainkanNya? Akan beratkah amal yang akan engkau bawa?

Justeru, renungkanlah duhai diri yang lemah. Agar kehidupanmu di dunia sentiasa waspada.

Semoga akan hadir dalam hatimu jiwa yang sensitif dengan dosa. Merasakan dosa itu besar sekalipun pada kesilapan sekecil zarah. Ketahuilah, itulah antara ciri-ciri mereka yang aqrab dengan tuhanNya. Yang punya Ihsan dalam hatinya. Merasa kehadiran Allah dalam setiap sentuhan masa yang ada sekalipun mata tidak melihat, tetapi hati menyakini Allah Maha Melihat.

Untuk apa perlu dirisaukan, aduhai hati yang rawan, sebuah kehilangan itu hanya secebis dugaan dari Tuhan sekalian alam. Hilang bukan bererti tamatnya sebuah kehidupan, tetapi dengan kehilangan itulah darjatmu ditinggikan. Hairan? Mengapa perlu dihairankan, Allah itu Maha berkuasa, zat yang sempurna penuh keagungan. Lupakah duhai hati, Allah telah berjanji dalam kalamNya yang agung.

"Adakah kamu mengaku beriman, sedangkan kamu belum diuji?”

Maka, hadapilah ujian dengan sejuta kesabaran. Percayalah, yakinlah sepenuh hatimu.
Hanyasanya Allah bersama-sama mereka yang sabar.

Aduhai hati yang penuh kesedihan. Mengapa perlu ditangisi sebuah perpisahan? Bukankah semua kita akan pergi pulang kepangkuan Ilahi. Dialah yang menjadikan. Dan padaNya jua segalanya akan dikembalikan. Lupakah engkau, hidup di dunia ini sekadar persinggahan. Yang kekal hanyalah amalan sebagai teman. Itulah teman dalam perjalanan menuju sebuah keabadian.

Maka, janganlah engkau lalaikan hatimu dengan kehidupan yang sementara ini. Janganlah engkau tangisi lagi sebuah perpisahan sementara, akan tetapi, hadapkanlah wajahmu sentiasa kepada Allah. Penuhkanlah jiwa dan hatimu dengan zikrullah memuji kebesaranNya. Juga sibukkanlah hari-harimu dengan amalan makruf nahi mungkar, mengikut sunnah kekasihNya.

Yakinlah, barangsiapa yang dihatinya ada Allah, dan mengutamakan Allah atas segala apa yang dilakukannya, Allah akan seiringkan pekerjaannya dengan pertolonganNya. Bekerja keraslah engkau untuk hari esokmu yang abadi. Berbekallah dengan amalan yang menguntungkanmu di sana nanti. Ingatlah, sebaik-baik bekalan adalah taqwa.

Duhai diri yang lemah. Kembalikanlah hatimu kepada Robb. Kerana Dialah pemilik segala yang engkau miliki. Segalanya hanya pinjaman untuk menguji. Kentalkanlah semangat juangmu.

Walau fitnah mencalar maruah, dia tetap Aisyah! Walau rumahtangganya di landa badai anggkara si munafiq durjana, tetap teguh pendiriannya, menggunung tawakkalnya. Pada Allah dia berdoa, mengharap furqan agar tenggelam segala nista. Insafilah duhai diri yang lemah, Allah sengaja menguji sekeping hati yang kecil sebagai tukaran untuk mendapatkan habuan yang lebih besar kelak.

Maka bersyukurlah..bersyukurlah..bersyukurlah kerana engkau insan terpilih.

...................SABARLAH JIKA DIUJI..................

Saturday, May 15, 2010

::...Mengapa Hati Mati ???...::


Hati adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan ia nikmat paling agung diberikan Allah. Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya. Pada hatilah letaknya niat seseorang.

Niat ikhlas itu akan diberi pahala. Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati. Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini, kesannya membabitkan seluruh anggota tubuh manusia. Akibatnya, akan lahir penyakit masyarakat berpunca daripada hati yang sudah rosak itu.

Justeru, hati menjadi amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat.

Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana bergelumang dengan dosa. Setiap dosa yang dilakukan tanpa bertaubat akan menyebabkan satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Bayangkan bagaimana kalau 10 dosa? 100 dosa? 1,000 dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan melalui hadis Rasulullah s.a.w yang bermaksud :

"Sesiapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya. Jika dia tidak bertaubat maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam."

(Hadis riwayat Ibn Majah)

Hadis ini selari dengan firman Allah bermaksud :

كَلّا ۖ بَل ۜ رانَ عَلىٰ قُلوبِهِم ما كانوا يَكسِبونَ

"Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka sudah diselaputi kotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan."

(Surah al-Muthaffifiin, ayat 14)

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadat tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan untuk mengamalkannya.

Dalam hal ini Allah berfirman yang bermaksud:

ثُمَّ قَسَت قُلوبُكُم مِن بَعدِ ذٰلِكَ فَهِىَ كَالحِجارَةِ أَو أَشَدُّ قَسوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الحِجارَةِ لَما يَتَفَجَّرُ مِنهُ الأَنهٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنها لَما يَشَّقَّقُ فَيَخرُجُ مِنهُ الماءُ ۚ وَإِنَّ مِنها لَما يَهبِطُ مِن خَشيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمّا تَعمَلونَ

"Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya. Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan."

(Surah al-Baqarah ayat 74)

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana amat takutkan Allah. Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Perkara paling membimbangkan ialah apabila hati mati akan berlaku kemusnahan amat besar terhadap manusia. Matinya hati adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh kehidupan. Inilah akibatnya apabila kita lalai dan cuai mengubati dan membersihkan hati. Kegagalan kita menghidupkan hati akan dipertanggungjawabkan Allah pada hari akhirat kelak.

Kenapa hati mati?

Hati mati disebabkan perkara berikut :

1. Hati mati kerana tidak berfungsi mengikut perintah Allah iaitu tidak mengambil iktibar dan pengajaran daripada didikan dan ujian Allah. Allah berfirman bermaksud:

فَوَيلٌ لِلقٰسِيَةِ قُلوبُهُم مِن ذِكرِ اللَّهِ ۚ أُولٰئِكَ فى ضَلٰلٍ مُبينٍ

"Maka kecelakaan besarlah bagi orang yang keras membatu hatinya daripada menerima peringatan yang diberi oleh Allah. Mereka yang demikian keadaannya adalah dalam kesesatan yang nyata."

(Surah al-Zumar ayat 22)

2. Hati juga mati jika tidak diberikan makanan dan santapan rohani dengan sewajarnya. Kalau tubuh badan boleh mati kerana tuannya tidak makan dan tidak minum, begitu juga hati. Apabila ia tidak diberikan santapan dan tidak diubati, ia bukan saja akan sakit dan buta, malah akan mati akhirnya. Santapan rohani yang dimaksudkan itu ialah zikrullah dan muhasabah diri.

Oleh itu, jaga dan peliharalah hati dengan sebaik-baiknya supaya tidak menjadi kotor, hitam, keras, sakit, buta dan mati. Gilap dan bersihkannya dengan cara banyak mengingati Allah (berzikir). Firman Allah bermaksud:

الَّذينَ ءامَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

"Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia."

(Surah al-Ra'd ayat 28)

Firman-Nya lagi bermaksud :

يَومَ لا يَنفَعُ مالٌ وَلا بَنونَ

"Hari yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan sebarang pertolongan,

إِلّا مَن أَتَى اللَّهَ بِقَلبٍ سَليمٍ

kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera daripada syirik dan munafik."

(Surah Ash-Shu’ara' ayat 88-89)

Tanda-tanda hati mati

Menurut Syeikh Ibrahim Adham, antara sebab atau tanda-tanda hati mati ialah :

    1. Mengaku kenal Allah SWT, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya.
    2. Mengaku cinta kepada Rasulullah s.a.w., tetapi mengabaikan sunnah baginda.
    3. Membaca al-Quran, tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya.
    4. Memakan nikmat-nikmat Allah SWT, tetapi tidak mensyukuri atas pemberian-Nya.
    5. Mengaku syaitan itu musuh, tetapi tidak berjuang menentangnya.
    6. Mengaku adanya nikmat syurga, tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya.
    7. Mengaku adanya seksa neraka, tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya.
    8. Mengaku kematian pasti tiba bagi setiap jiwa, tetapi masih tidak bersedia untuknya.
    9. Menyibukkan diri membuka keaiban orang lain, tetapi lupa akan keaiban diri sendiri.
    10. Menghantar dan menguburkan jenazah/mayat saudara se-Islam, tetapi tidak mengambil pengajaran daripadanya.

Semoga dengan panduan yang di sampaikan itu akan dapat kita sama-sama mengambil iktibar semoga segala apa yang kita kerjakan akan diredai Allah SWT.

Menurut Sheikh Ibni Athoillah Iskandari dalam kalam hikmahnya yang berikutnya :

Sebahagian daripada tanda mati hati itu ialah jika tidak merasa dukacita kerana tertinggal sesuatu amal perbuatan kebajikan juga tidak menyesal jika terjadi berbuat sesuatu pelanggaran dosa.

Mati hati itu adalah kerana tiga perkara iaitu:

    1. Hubbud dunia (kasihkan dunia)
    2. Lalai daripada zikirullah (mengingati Allah)
    3. Membanyakkan makan dan menjatuhkan anggota badan kepada maksiat kepada Allah.

Hidup hati itu kerana tiga perkara iaitu:

    1. Zuhud dengan dunia
    2. Zikrullah
    3. Bergaul atau berkawan dengan aulia Allah.

...........JAGALAH HATI...JANGAN DIKOTORI..........